Jumat, 02 Mei 2008

Al-Qur'an Obat mujarab




وننزل من القران ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين

“Dan kami turunkan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”.( QS.Al-Isra’:82 )


Kata “مِن” pada ayat tersebut men-jelaskan tentang jenis,bukan untuk pem-bagian, sebab Al-Qur’an secara kese-luruhan adalah merupakan obat pe-nyembuh, seperti dijelaskan pada ayat tersebut. Al-Qur’an adalah penawar hati dari penyakit kebodohan dan keragu-raguan. Selamanya Allah tidak akan menurunkan suatu obat dari langit yang lebih komplit, lebih bermanfaat dan lebih mujarab dalam mnyembuhkan suatu penyakit kecuali dengan Al-Qur’an. Telah disebutkan dalam kitab sahih Bukhari dan sahih Muslim sebuah hadits dari Abu Sa’id ia berkata : “Sekelompok dari Sahabat Nabi SAW pernah melakukan perjalanan jauh, mereka kemudian singgah di sebuah perkam-pungan Arab lalu mereka minta agar dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka ti-dak mau menjamunya.Setelah berselang beberapa saat,kepala kampung tersebut disengat seekor hewan. Para penduduk-nya dengan segala kemampuan yang ada telah berusaha untuk mengobatinya, na-mun usahanya tetap sia-sia. Salah satu di antara mereka lalu ada yang berkata kepada teman-temannya,’ Jika kalian mau mendatangi orang-orang yang singgah itu, kemungkinan salah seorang dari mereka ada yang mempunyai sesuatu yang dapat dipergunakan untuk mengobatinya. . ’Dengan sepakat akhirnya para penduduk tersebut datang menghadap mereka sam-bil berkata,’Wahai sahabat, ketahuilah bahwa sesungguhnya kepala kampung kami disengat seekor hewan, kami telah berusaha dengan segala cara untuk me-ngobatinya, namun semua itu tidak ber-pengaruh sedikit pun.Salah seorang di antara anggota kelompok itu ada yang menjawab,’Ya, sungguh aku mempunyai mantera. Akan tetapi kami pernah minta kepada kalian untuk menjamu kami, namun kalian tidak mau menja-munya. Aku tidak mungkin akan mem-bacakan mantera itu kepada kalian jika kalian tidak mau memberikan upah ke-pada kami. Penduduk kampung tersebut akhirnya mengadakan permusyawara-tan dengan mereka, dengan suatu ke-putusan bahwa mereka akan membe-rikan upah beberapa ekor kambing. Orang yang pandai mantera itu kemu-dian pergi untuk menemui kepala kam-pung tersebut lalu membacakan ‘surat Al-Fatihah’. Kepala kampung itu pun kemudian sembuh, bangkit dan berja-lan-jalan tanpa ada rasa sakit sedikit-pun. Para penduduk tersebut kemudian memenuhi janjinya sesuai dengan kepu-tusan musyawarah tadi. Setelah upah tersebut diterima, ada sebagian dari ke-lompok tersebut berkata, ‘Hendaknya kambing-kambing itu dibagi.’ Orang yang pandai mantera menjawab,’Kami tidak akan melaksanakannya sebelum kami datang menghadap Nabi Saw. untuk kita laporkan apa yang diperin-tahkan beliau nanti.’ Merekapun akhir-nya menghadap Rasulullah Saw. dan menghaturkan peristiwa tersebut. Nabi lalu bersabda,’Dari mana kalian tahu bahwa surat Al Fatihah itu merupakan mantera !’ Rasulullah Saw. melanjutkan sabdanya, ‘Kalian telah melakukan sesuatu yang benar. Bagi-bagilah upah itu dan berikan untukku saham bersama kalian’.”
Surat Al Fatihah tersebut dapat berpengaruh bahkan dapat menyem-buhkan penyakit, sehingga seakan-akan penyakit tersebut tidak pernah ada. Pengobatan semacam ini adalah cara pe-ngobatan yang paling mudah dan paling gampang didapatkan. Seandainya setiap orang mau melakukan pengobatan de-ngan menggunakan surat Al Fatihah de-ngan baik, niscaya dia akan melihat pe-ngaruhnya yang sangat mengagumkan dalam menyembuhkan suatu penyakit. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni zikir, ayat maupun do’a-do’a yang dipergunakan sebagai obat atau ruqyah, itu pada hakikatnya tergantung pada keyakinan dan kemauan keras orang yang melakukannya, sehing-ga ada pengaruhnya terhadap penyakit tersebut. Jika ada suatu obat yang tidak ada pengaruhnya pada suatu penyakit, maka hal itu disebabkan karena lemahnya keyakinan pelakunya atau karena tidak cocok memakai cara tersebut. Atau kare-na ada pengaruh lain yang lebih kuat sehingga dapat mempengaruhi keman-juran obat tersebut, seperti yang terjadi pada obat-obat sekarang. Ketidakman-juran suatu obat pada seseorang bisa jadi karena memang tidak cocok, atau karena ada penyebab lain yang lebih kuat sehing-ga dapat menghambat kemanjuran obat itu. Dengan demikian setiap orang yang menggunakan obat menurut dosisnya, maka akan berpengaruh sesuai dengan dosis yang telah diberikan. Demikian halnya hati, jika ia mendapatkan mantera atau jimat sesuai dengan dosisnya yang ada, dan orang yang memberi mantera itu mempunyai kekuatan jiwa serta kemauan keras untuk menyembuhkan, maka man-tera tersebut akan berpengaruh sesuai dengan dosisi yang telah diberikan.

http://www.hariansantri.blogspot.com/

0 komentar: