Jumat, 02 Mei 2008

Ketenangan adalah kekuatan




ان الله يضل من يشاء ويهدي اليه من اناب (27) الذين امنوا وتطمئن قلوبهم بذكرالله, الا بذكر الله تطمئن القلوب (28

Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk orang-orang yang taubat kepada-Nya. Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Sadarilah hanya dengan mengingat Allah hati akan tenang. (Ar-Ra’d: 27-28).
Ayat di atas dipetik dari surat Ar-Ra’d yang berarti guruh. Disebut surat Ar-Ra’d karena ada bagian yang menying-gung tentang guruh, yakni pada ayat ke-13 yang berbunyi, Dan guruh itu bertas-bih sambil memuji Allah. Ayat ini mem-beri pelajaran kepada manusia bahwa guruh pun bertasbih, apalagi semes-tinya manusia Sedangkan ayat ke-27 dan 28 yang tertera di atas menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) akan memberi petunjuk dan bimbingan kepa-da orang-orang yang bertaubat kepada-Nya. Artinya, orang-orang yang sadar lalu kembali ke jalan Allah; orang-orang yang telah menyesali perbuatan-per-buatan tercela yang pernah dilaku-kannya. Dijelaskan dalam ayat ke-28 bahwa, “Yaitu orang-orang yang beriman.”
Artinya, dengan bertaubat itu berarti kembali memasuki kancah keberimanan atau kembali melakukan kewajiban-kewajiban sebagai orang beriman. Hal tersebut dibuktikan dengan banyak mengingat Allah sehingga tidak mudah lagi terpeleset dari jalan petunjuk. Dalam keadaan demikian itu, jiwanya menjadi tenang dan tenteram, karena memang ada jaminan dalam lanjutan ayat itu bahwa, “Dengan banyak mengingat Allah hati akan tenteram.” Orang yang telah melalui proses ini-yaitu menyongsong gerbang taubat dan memasuki istana iman-lalu memanfaatkan kondisi tersebut untuk selalu mengingat Allah, maka itulah orang yang telah mendapat kebahagiaan yang tiada ban-dingannya. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini, ketenangan jiwa sungguh sangat mahal harganya. Bukankah di sekitar kita sekarang penuh dengan hal-hal yang memproduksi kegelisahan, kecemasan, keputusasaan, keraguan, du-ka cita, dan lain sebagainya? Kalau kita tidak memiliki ketenangan jiwa, tidak memiliki pegangan kuat, dan tidak mempunyai pandangan, niscaya mudah terombang-ambing. Ketenangan jiwa membuat orang dapat hidup tenang. Inilah yang sangat diperlukan pada situasi seperti seka-rang, di tengah-tengah gelombang kehi-dupan yang serba tidak menentu. Apalagi bagi seorang pemimpin yang bercita-cita mewujudkan kecerah-ceria-an masa depan bagi negeri yang se-dang terpuruk ini. Hanya orang yang memiliki ketenangan jiwa yang dibalut oleh iman dan dzikrullah yang dapat berpikir tenang; berpandangan jitu, dan mampu membuat program yang menge-nai sasaran untuk kepentingan manusia dan kemanusiaan.Sekarang ini kita bukannya miskin manusia intelek, tetapi ibu-ibu di negeri ini tidak subur rahimnya untuk melahir-kan insan-insan yang memiliki jiwa dan pikiran tenang. Yaitu insan yang tidak terkontaminasi dengan virus kegeli-sahan, kecemasan, keputusasaan, dan keraguan. Hendaknya secuil ketenangan jiwa yang telah kita peroleh bisa senantiasa dipelihara, kita pupuk dengan shalat, puasa, baik yang fardhu atau yang sunnah, infaq, dzikir, dan tadabbur (telaah) Al-Qur'an. Insya Allah semua itu akan menghidupkan hati, menenangkan jiwa, membuka pikiran, dan meluruskan langkah. Lebih jauh dari itu, akan me-ngantar kita agar dapat terhindar dari kesulitan di akhirat, yang sekaligus akan mempermudah kita dalam urusan dunia. Sekarang ini kita tidak mengharapkan lahirnya pakar manajemen yang telah menghabiskan separoh umurnya belajar dari satu negara ke negara yang lain, namun kering dari nilai-nilai wahyu. Tapi yang diharapkan adalah yang tercerah-kan dengan wahyu dan kaya dengan bahan perbandingan Kita bisa belajar dari sejarah. Kaisar Romawi, Heraclius, beberapa saat setelah pasukannya dipukul mundur oleh tentara Muslim, dia bertanya kepada pembesar-pembesarnya, “Kabarkanlah kepadaku tentang kaum Muslimin yang memerangi kalian itu. Bukankah mereka juga manusia seperti kalian?”Pembesarnya menjawab, “Benar.”Kaisar bertanya lagi, “Lalu mana yang lebih banyak jumlahnya, kalian atau mereka?”Para pembesar menjawab, “Jumlah kami lebih banyak.”-Kaisar melanjutkan pertanyaannya, “Kenapa kalian bisa kalah?”Seorang tua di kalangan pembesar menjawab, “Karena tentara Islam shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari, mereka menepati janji, melaksanakan amar ma'ruf dan nahi munkar, saling membagi, tidak saling mementingkan diri. Yang menyebabkan kita kalah karena kita gemar minum khamr, berzina, suka melakukan yang haram, terbiasa melanggar janji, mudah marah, berbuat zhalim, memerintah dengan kekerasan, mencegah dari hal yang diridhai Allah, dan kita banyak berbuat kerusakan di muka bumi ini.”-Kaisar Heraclius berkata, “Lewat kete-ranganmu ini membuat aku yakin bahwa kita memang pantas dikalahkan oleh mereka, dan mereka akan merebut dan menguasai tempat berpijak kedua telapak kakiku ini.”Kita dapat melihat bahwa kemenangan yang dicapai ummat Islam bukan hanya dengan mengandalkan persenjataan yang lengkap dan jumlah personil yang banyak, tapi terletak pada ketaatan dan kepatuhan berpegang teguh pada ajaran yang di-anutnya. Dalam kondisi genting pun tetap menjaga moral dan mematuhi norma-norma yang telah digariskan untuknya. Mereka memiliki ketenangan jiwa dan pikiran jernih, baik panglima perangnya ataupun perajurit-prajuritnya. Mereka mampu menahan diri melihat lawannya berpesta khamar dan melampiaskan nafsu seksnya. Kaum Muslimin sadar bahwa dalam ketenangan dan pengen-dalian dirilah terletak potensi maha raksasa untuk mencapai kemenangan. Wallahu a’lam.---------------
Menciptakan ketenangan diantara sesama
Kata-kata adalah nutrisi dan penawar segala penyakit. Lidah adalah roda kemudi. Karena itulah, mengapa orang yang mengalami kegundahan, kese-dihan, stress atau depresi, akan menjadi lebih baik ketika mendapatkan siraman kata-kata sejuk yang menghibur. Hal ini menunjukkan betapa hebatnya fungsi ucapan yang meluncur dari lidah seseorang. Tak semua ucapan dituju-kan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian.
Saat kita mengucapkan, "Selamat pagi ! Apa kabar ?" kita tidak bermaksud mencari keterangan. Tapi hal itu upaya agar orang lain merasa apa yang disebut oleh Teori Analisis Transaksi-onal sebagai, 'Saya Oke - Kamu Oke'. Yaitu komunikasi yang ditujukan untuk menimbulkan kesenangan. Sebaliknya, perkataan yang buruk atau komunikasi yang gagal akan menimbulkan hubu-ngan sosial yang tidak harmonis. Maka dari itu, Allah swt. berfirman, "Hendak-lah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaithan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka." (QS Al-Isra': 53) Renungkanlah perumpamaan yang Allah SWT gambarkan dalam Al-Quran, "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kali-mat yang baik seperti pohon yang baik, yaitu akarnya teguh dan cabangnya (men-julang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan se-izin Tuhannya. Allah membuat perum-pamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat."------------ (QS Ibrahim: 24-25) Berinfaklah dengan perasaan Anda. Sungguh, kita kaya dan berkuasa atas perasaan yang kita miliki. Maka sedekah-kanlah kekayaan bathin itu untuk keluarga dan orang-orang terdekat kita. Jangan halangi mereka dari mera-sakan perasaan-perasaan itu. Berkatalah pada istri, suami atau kerabat dan orang terdekat dengan mulut yang terbuka dengan sempurna, lalu selamilah isi hati kita. Usahakanlah selalu agar mereka tidak merasa bahwa kita pelit hati, walau tangan sering bersedekah. Jangan buat mereka gersang dan haus akan kesejukan hati kita. Janganlah bakhil mencurahkan kemura-han hati kita, padahal mereka mengetahui bahwa kita memiliki kemu-rahan itu. Apakah air sejuk hati ini begitu dalam, sehingga tak dapat dirasakan seperti halnya air di sumur yang dalam?
Atsar berikut bisa kita renungkan. Isteri terbahagia di antara para wanita, yaitu 'Aisyah meriwayatkan dari Rasulullah saw.
"Surga adalah tempat orang yang bermurah hati." (HR Ibnu 'Ady).
Maka bangunlah surga dengan kederma-wanan kata-kata yang baik dan lembut, pujian yang semerbak serta luapan perasaan cinta kasih. Karena kata-kata yang baik adalah mata air kehidupan bagi hati dan jiwa, lebih-lebih hati dan jiwa wanita. Jangan bakhil terhadap sepotong kata yang baik. Kenapa harus berat mengucapkan kata-kata menyejukkan? Apakah sepotong kata yang dikeluarkan membuat harta berkurang? Apakah sepenggal kalimat baik yang kita ucapkan membuat kita terbebani? Alangkah indahnya jika kita menjunjung syiar Islam, yaitu membahagiakan orang lain. Dan orang lain yang paling utama kita bahagiakan, adalah keluarga dan orang terdekat.
Sabda Rasulullah SAW,
"Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah setelah amal fardhu, yaitu memberikan kegembiraan pada orang muslim." (HR Ath-Thabrany)
Kata-kata lembut antara suami-istri mengandung pesan hati serta jiwa yang begitu dalam. Dan setelahnya, Insya Allah akan lahir kebahagiaan agung yang mencairkan segala kebekuan. Sinarilah rumah tangga dengan kata-kata baik nan lembut, maka Anda sudah membangun satu pondasi kokoh bagi pernikahan. Dengan ucapan yang menyejukkan hati, rumah terisi dengan cahaya saling memaafkan, cahaya toleransi dan cahaya cinta. Akhirnya, hati dan jiwa pun saling menyatu.


http://www.hariansantri.blogspot.com/

1 komentar:

kang aniq mengatakan...

bagus,