Sabtu, 03 Mei 2008

Sabar dan Syukur


Ketahuilah bahwa keimanan itu ada dua bagian, satu bagian adalah sabar dan sebagian lain adalah syukur, berdasarkan yang terdapat dalam hadits dan atsar.
Mengenai pujian terhadap ke-sabaran ALLAH Swt berfirman;
“Dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar,.
( QS As-Sajadah :24).
Dan telah sempurnalah perka-taan Tuhanmu yang baik (sebagai janji ) untuk bani Israil disebabkan kesabaran mereka . (QS Al-A’rof : 137)
Hakikat Kesabaran
Ketahuilah bahwa kesabaran tersusun dari ilmu, keadaan,dan perbuatan.Ilmu di dalam hal itu adalah seperti pohon, keadaan seperti ranting,
dan perbuatan seperti buah. Maka eng-kau mengetahui bahwa kemashlahatan agama terletak pada kesabaran. Hal itu mewariskan kekuatan dan panggilan yang menuntut kesabaran.
Hal itu yang dilakukan baik karena ibadah maupun pemenuhan syahwat. Da-lam seluruh ihwalnya, itu memerlukan su-atu jenis kesabaran. Sehingga dalam ke-bolehannya tidak melewati batas kese-imbangan hingga melampaui batas. Kesabaran karena ibadah adalah menge-tahui bahwa ia bersabarbeberapa hari dan kemudian sebagi imbalannya ia akan memperoleh kebahagiaan untutk selama-lamanya. Hal itu memerlukan kesabaran dari penyebaran dan perusakannya oleh riya’. Kebanyakan sabar adalah keha-rusan menahan diri dari syahwat dan ter-lepas dari pengaruhnya sebagaimana te-lah disebutkan. Diantara yang mengha-ruskan kita bersabar adalah jika seseo-rang menuduh kita berbuat kejahatan, dengan perkataan atau perbuatan. Se-bagian sahabat r.a berkata : Kami tidak menganggap keimanan seseorang se-bagi suatu keimanan jika ia belum dapat bersabar terhadap gangguan. “ Allah SWT berfirman ...dan jika kami bersung-guh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan- gangguan yang kami laku-kan kepada kami. Dan hanya kepada Allah orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri (QS. Ibrahim : 12 ) Kesabaran itu kadang-kadang terhadap satu perbuatan dan kecenderungannya, dan kadang-kadang pula terhadap bala-sannya. Di dalam keduannya terdapat kesempurnaan iman.
Bagian lain, musibah-musibah yang muncul bukan karena ikhtiyar, se-perti sakit hilangnya penglihatan, cacat anggota tubuh dan kematian orang yang dicintai. Ibnu Abbas ra. Berkata “ Kesa-baran di dalam Al-Qur’an ada tiga aspek yaitu kesabaran dalam menjalankan fardlu-fardlu kepada Allah SWT, maka ini memiliki tiga ratus derajat, kesabaran dalm menjauhi larangan-larangan Allah SWT, dan ini memiliki enam ratus dera-jat dan kesabaran terhadap musibah-musibah ketika pertama kali menimpa, dan ini memiliki sembilan ratus derajat,
Ada yang mengatakn bahwa kesabaran yang baik adalah jika suatu musibah tidak tampak dari orang yang tertimpa-nya. Kita tidak mungkin sampai pada tingkatan ini kecuali dengan banyak latihan dalam jangka waktu lama.Wallahu A’lam
Adapun mengenai keutamaan syukur, Allah SWT menghubungkan dengan dzikir, Allah SWT berfirman :
Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaan-nya dari ibadat-ibadat yang lain ( QS.Al Ankabut : 45 )
Karena itu ingatlah kepadaKu, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyu-kurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku ( QS Al Baqarah : 22 )
Di antara hadits Nabi adalah sabda Rasu-lullah SAW
“ Orang makan yang bersyukur, kedudu-kannya sama dengan orang puasa yang bersabar “
Syukur adalah menyadari bahwa tidak ada yang memberi kenikmatan kecuali Allah SWT. Kemudian apa bila engkau mengetahui perincian kenikmatan Allah kepadamu dalam anggota tubuh, jasad dan ruhmu, serta seluruh yang engkau perlukan dari urusan-urusan penghidu-panmu, muncullah di dalam hatimu rasa senang kepada Allah dan kenikmatan-Nya serta anugerah-Nya atas dirimu. Kemudian, karenanya engkau bnyak ber-amal. Syukur itu adalah dengan hati, lisan anggota-anggota tubuh lainnya.
Syukur dengan hati adalah eng-kau menyembunyikan kebaikan dari selu-ruh makhluk dan senantiasa menghadir-kannya dalam dzikir kepada Allah SWT, bukan melalaikannya.
Syukur dengan lisan adalah eng-kau menampakkannya dengan pujian-puji-an yang ditujukan padaNya.
Adapun dengan anggota tubuh yang lain adalah dengan menggunakan kenikmatan-kenikmatan Allah SWT di da-lam ketaatan kepada-Nya dan merasa ta-kut untuk menggunakannya dalam kemak-siatan. Mensyukuri kenikmatan mata ada-lah engkau menutupi seluruh aib yang engkau lihat dari kaum Muslim. Engkau tidak menggunakan untuk melihat dalam kemaksiatan.mensykuri kenikmatan teli-nga adalah engkau menutupi aib-iab yang engkau dengar, dan tidak menggunakan-nya untuk mendengar kecuali yang dibo-lehkan.
Rasulullah Saw bertanya kepada seseorang, “Bagaimana keadaanmu pada pagi hari ini ?” Orang itu menja-wab,”Dalam keadaan baik.”Rasulullah Saw mengulang pertanyaannya. Maka orang itu pun memberikan jawaban yang sama. Sehingga pada ketiga kali-nya, orang itu menjawab,”Dalam keada-an baik, aku memuji Allah Swt dan bersyukur kepadanya.” Maka Rasulullah Saw bersabda,” Itulah yang aku ingin-kan darimu.”
Jika setiap orang ditanya me-ngenai suatu hal, ia berada diantara bersyukur sehingga menjadi orang yang taat dan mengadu sehingga ia menjadi orang yang berbuat maksiat.
Jika ada orang yang berta-nya,”Apa makna syukur? Padahal syu-kur adalah kenikmatan sempurna dari Allah Swt.” Maka kami jawab,” Perta-nyaan ini yang terjadi pada ihwal Dawud a.s. dan Musa a.s. Musa a.s berta-nya,”Bagaimana aku bersyukur kepada-Mu ? Sedangkan aku tidak mampu un-tuk bersyukur kepada-Mu kecuali de-ngan kenikmatan yang bersumber dari kenikmatan-kenikmatan-Mu.”Maka Allah Swt menurunkan wahyu kepadanya. `Jika engkau telah mengetahui hal ini, maka itu berarti engkau telah bersyukur kepada-Ku.”
Di dalam hadis lain disebutkan, ”Apabila engkau mengetahuibahwa ke-nikmatan itu dari-Ku, maka Aku rela ke-padamu hal itu sebagai suatu syukur darimu.”
Jika engkau katakana,”aku be-lum memahami jawaban ini,”maka ilmu pun merupakan kenikmatan lain dari-Nya. Ketahuilah bahwa ini merupakan cabang dari bab “Tauhid dan Tawa-kkal”.yaitu, bahwa Dia adalah yang ber-syukur, yang disyukuri, yang mencintai dan yang dicintai. Tidak ada sesuatu yang lain di dalam wujud ini selain Allah. Segala sesuatu pasti akan binasa kecu-ali diri-Nya, dan ini merupakan kebenaran azali dan abadi, karena tidak ada dalam wujud ini selain Allah. Dia berdiri dengan Dzat-Nya. Maka dia mengatur segala urusan dengan Dzat-Nya.
Segala sesuatu selain-Nya adalah berdiri dengan pertolongan-Nya. Maka dia adalah yang Maha Berdiri sendiri dan Maha hidup. Jadi, tidak ada dalam wujud ini selain yang Maha Berdiri sendiri dan Maha Hidup. Dia adalah yang bersyukur, yang disyukuri, yang mencintai dan yang dicintai.
Dari sinilah, Habib bin Habib, keti-ka membaca firman Allah Swt.,”Se-sungguhnya kami dapati dia (Ayyub) se-orang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya) (QS Shad [38]:44), ia berkata,” Aduhai, betapa agungnya. Dia memberi dan memuji. Ini menunjukkan bahwa jika Dia memuji pemberian-Nya, Dia memuji diri-Nya. Maka Dia yang me-muji yang dipuji.”
Dari sini syaikh Abu Sa`id Al-Mayhani, ketika dibacakan di hadapan-nya,...yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya (QS Al-Maidah [53]:54), ia berkata,”Demi umurku, Dia mencintai mereka. Biarkanlah dia men-cintai mereka. Maka dengan kebenaran dia mencintai mereka, karena dia hanya mencintai mereka untuk diri-Nya. Ia mengisyaratkan bahwa Dia adalah yang mencintai dan yang dicintai.” Ini meru-pakan tingkatan paling tinggi yang tidak akan tergapai oleh pemahamanmu kecuali sekadar kemampuan akalmu.
Hal itu tidak tertutup bagimu, bahwa kalau pengarang mencintai karya-nya, ia mencintai dirinya. Kalau pencipta menyukai ciptaannya, maka ia mencintai dirinya. Kalau orang tua mencintai anak-nya dalam hal ia sebagai anaknya, maka ia mencintai dirinya. Tidak ada di dalam wujud ini selain Allah Swt. jika karya dan ciptaan Dia cintai, maka Dia tidak mencintai selain diri-Nya. Ini pandangan dalam kacamata tauhid.
Hal itu ditunjukkan dengan per-kataan para sufi, merka berkata,”Ia fana dari dirinya dan selainnya, maka ia tidak melihat selain Allah.” Orang-orang tidak memahami hal ini, lalu menolak mere-ka. Mereka mengatakan,”Bagaiman bisa fana, padahal bayangan badannya tetap sebagimana adanya. Sepanjang siang dan malam ia makan berkilo-kilo maka-nan.” Mereka menertawaknanya karena ketidak tahuan mereka sendiri. Merka menrtawakan orang-orang bijak (`arif) karena kebodohan mereka sendiri, dan syarat bagi orang-orang arif adalan menjadi tertawaan orang-orang bodoh. Hal itu ditunjukkan dengan firman Allah Swt., Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulu-nya (di dunia) menrtawakan orang-orang yang beriman (QS Al-Muthaffifin [83]:29). Sampai pada firman-Nya, Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir (QS Al-Muthaffifin [83]:34.Kita kembali pada pembahasan semula. Kami katakan bahwa syukur adalah menggunakan kenikmatan pada jalan yang Allah ciptakan baginya..Allah Mahatahu yang benar, dan kepada-Nya tempat kembali.

http://www.hariansantri.blogspot.com/

0 komentar: